Efektivitas Kombinasi Artesunat-Klindamisin dengan Kinin-Klindamisin pada Pengobatan Malaria FalciparumTanpa Komplikasi pada Anak

Erika S. Panjaitan, Syahril Pasaribu, Muhammad Ali, Munar Lubis, Chairuddin P. Lubis, Ayodhia P. Pasaribu

Sari


Latar belakang. Kombinasi antimalaria termasuk artemisinin sering tidak sesuai secara farmakokinetika sehingga
berpotensi untuk resistensi. Untuk itu penilaian terhadap kombinasi artemisinin dengan obat yang mempunyai
waktu paruh yang pendek diperlukan dalam pengobatan malaria falciparumtanpa komplikasi pada anak.
Tujuan. Untuk membandingkan efektifitas kombinasi artesunat-klindamisin dengan kinin-klindamisin
pada pengobatan malaria falciparumtanpa komplikasi pada anak.
Metode. Penelitian dilakukan dengan metode uji klinis acak terbuka yang dilaksanakan pada bulan Oktober
sampai November 2010 di Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara. Subjek berusia 7 sampai 12 tahun
dan dijumpai Plasmodium falciparumpada pemeriksaan darah tepi. Kelompok I menerima kombinasi
artesunat-klindamisin (artesunat 4mg/kg, dan klindamisin 7mg/kg, per dosis). Kelompok II menerima
kombinasi kinin-klindamisin (kinin 4 mg/kg dan klindamisin 7mg/kg, per dosis). Kedua kelompok beri
obat dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Parasitemia dihitung pada hari 1, 2, 3, 7, 14, dan 28.
Analisis didasarkan intention to treat analysis.
Hasil. Penelitian diikuti dua ratus anak. Adequate clinical parasitological respons dari artesunat-klindamisin
dijumpai berbeda secara bermakna dibandingkan kinin-klindamisin 94% dan 62% (p=0,0001). Kesembuhan
artesunat-klindamisin dicapai hari ke-3 dan ke-4 belas 97% (p=0,001). Kesembuhan kinin-klindamisin
dicapai pada hari ke-14 dan ke-28 92% (p=0.236). Pada pengamatan tidak dijumpai efek samping yang
serius.
Kesimpulan.Kombinasi artesunat-klindamisin lebih efektif dari pada kinin-klindamisin pada pengobatan
malaria falciparumtanpa komplikasi pada anak


Kata Kunci


artesunat­klindamisin; kinin­klindamisin; malaria falciparum; parasitemia

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Soedarmo SS, Garna H, Hadinegoro SR, Satari HI.

Malaria. Dalam: Buku ajar infeksi dan pediatrik tropis.

Edisi ke­2. Jakarta : IDAI; 2008.h.408­37.

Tjitra E. Pengobatan malaria dengan kombinasi

artemisinin. Puslitbang Pemberantasan Penyakit Menular.

Diunduh dari www.depkes.go.id.diaksestahun 2010.

Azlin E, Batubara I, Dalimunthe W, Siregar C, Lubis B,

Lubis M, Pasaribu S. The effectiveness of chloroquine

compared to fansidar in treating falciparum malaria. Paed

Indones 2004; 44:17­20.

Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan

Lingkungan Departemen Kesehatan RI. Pedoman tata

laksana kasus malaria di Indonesia: Gebrak Malaria

Jakarta: Bakti Husada; 2005.h.1­38.

Zein U. Penanganan terkini malaria falciparum. Divisi

Penyakit Tropik Dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit

Dalam Fakultas Kedokteran USU; 2005.h.1­13.

Yerra A, Nagar P. An overview of WHO guidelines on

the management of malaria. 2008.

Battin M, White N. Are artemisinin derivates safe

in neonates? International Child Health Review

Collaboration, penyunting. University of Auckland. New

Zealand; 2006.h.1­3.

Ramharter M, Oyakhirome S, Klouwenberg, Adegnika

AA, Agnandji ST, Missinou MA, dkk. Artesunate­

clindamycin versus kinin­clindamycin in the treatment

of Plasmodium Falciparum Malaria :A randomized

controlled trial. Clin Infect Dis 2005; 40:1777­84.

Olliaro PL, Taylor WRJ. Developing artemisinin based

drug combinations for the treatment of drug resistant

falciparum malaria: A review. J Postgrad Med 2004;

:40­4.

Siahaan L. Kombinasi kinia­klindamisin 3 hari pada

penderita malaria falciparum tanpa komplikasi. Maj

Kedok Nusantara 2008; 41:88­92.

Tjitra E. Manifestasi klinis dan pengobatan malaria.

Cermin Dunia Kedok 1994;94:7­13.

World Health Organization. Antimalarial drug

combination therapy.Geneva: WHO;2001.

Betrand L. Clindamycin as an antimalarial drug:

Review of clinical trials. J Antimicrob Chemother 2002;

:2315­20.

Ramharter M, Noedl. H, Winkler. Graninger W,

Wernsdorfer WH, Kremsner PG, Winkler S. In vitro

activity and interaction of clindamycin combined with

dihydroartemisinin against plasmodium falciparum.

Antimicrob Agents and Chemother 2003;47:3494­9.

Pukritta S, Chantra A, Vanijanonta S, Clemens R.

Therapeutic responses to quinine and clindamycin in

multidrug­resistant falciparum malaria. Antimicrobial

Agents and Chemotherapy 2000:2395­8.

Kremsner PG, Winkler S,Brand C, Neifer S, Bienzle

U, Graninger W. Clindamycin in combination with

chloroquine or quinine is an effective therapy for

uncomplicated plasmodium falciparum malaria in

children from Gabon. J Infect Dis 1994;169:467­70.

Borrmann S, Issifou S, Esser G, Adegnika AA, Ramharter

M, Matsiegui PB, dkk. Fosmidomycin­clindamycin for

the treatment of plasmodium falciparum Malaria. The

J Infect Dis Soc of Am 2004; 190:1534­40.

Krause PJ. Malaria (Plasmodium). Dalam: Behrman ER,

Kliegman MR, Jonson BH, penyunting. Nelson textbook

of pediatrics. Edisi ke­18. Philadelphia; Saunders;

h.1139­43.

Ganiswarna G, Setiabudy R, Suyatna FD. Dalam:

Sukarban S, Zunilda SB, penyunting. Farmakologi dan

terapi. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia;1995. h.545­59.

Hardjasaputta SL, Budipranoto G, Sembiring SU.

Clindamycin. Dalam: Data obat di Indonesia. Edisi ke

­10. Gradian Medipress; 2002.h.336­7.




DOI: http://dx.doi.org/10.14238/sp13.6.2012.420-5

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by-nc-sa4.footer##

Informasi Editorial:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Jl. Salemba I No 5, Jakarta 10430, Indonesia
Phone/Fax: +62-21-3912577
Email: editorial [at] saripediatri.org

Lisensi Creative Commons
Sari Pediatri diterbitkan oleh Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.