Asupan Zat Besi Berhubungan dengan Perkembangan Anak Stunting Usia 6 - 36 Bulan di Semarang

Maria Martiani, Ani Margawati, Maria Mexitalia, Farid Agung Rahmadi, Etika Ratna Noer, Ahmad Syauqy

Sari


Latar belakang. Salah satu masalah gizi pada anak yaitu stunting (pendek). Salah satu faktor penyebab stunting yakni asupan zat gizi. Salah satu akibat stunting dapat mempengaruhi perkembangan anak. Ibu berperan penting pada asupan gizi serta perkembangan anak. Skrining pada usia dini berperan dalam mengetahui ada tidaknya gangguan perkembangan pada anak stunting.
Tujuan. Mengetahui hubungan asupan gizi dengan perkembangan anak stunting usia 6—36 bulan di wilayah Semarang Selatan
Metode. Desain penelitian cross sectional yang dilaksanakan di 8 puskesmas di wilayah Semarang Selatan. Data diperoleh dengan cara interview kuesioner serta pemeriksaan perkembangan dilaksanakan dengan instrumen Capute Scales pada bulan September - November 2020. Analisis multivariat regresi linier digunakan untuk mengetahui hubungan perkembangan dengan variabel dengan mengontrol variabel luar (usia, jenis kelamin, status stunting)
Hasil. Subjek berjumlah 71 anak stunting. Subjek memiliki asupan energi (63,1%) dan zat besi (66,2%) yang rendah. Terdapat 33,8% anak stunting mengalami suspek gangguan perkembangan, 9,9% gangguan komunikasi dan 11,3% suspek disabilitas intelektual. Uji multivariat regresi linier menunjukkan bahwa asupan zat besi berhubungan positif dengan perkembangan anak stunting (p 0,05).
Kesimpulan. Terdapat hubungan signifikan antara asupan zat besi dengan perkembangan anak stunting.


Kata Kunci


stunting; asupan gizi; karakteristik ibu; perkembangan; capute scale

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Black MM, Walker SP, Fernald LCH, dkk. Advancing early childhood development : from science to scale 1 : Early childhood development coming of age : science through the life course. Lancet 2017;389:77–90.

World Health Organization. Child stunting [Internet]. 2019 [cited 2020 Jun 20]. Didapat dari: https://apps.who.int/gho/data/node.sdg.2-2-viz-1?lang=en

Tim Riskesdas. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta; Riskesdas; 2019.

Kementerian Kesehatan RI. Hasil Pemantauan status gizi (PSG) tahun 2017. Masyarakat DG, penyunting. Buku saku pemantauan status gizi tahun 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2018.

World Health Organization. Childhood stunting: context, causes and consequences - WHO conceptual framework. WHO; 2013.

Georgieff MK. Nutrition and the developing brain: Nutrient priorities and measurement. Am J Clin Nutr 2007;85:614–20.

Cusick SE, Georgieff MK. The role of nutrition in brain development : The golden opportunity of the “first 1000 days”. J Pediatr 2016;175:16–21.

Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Edisi pertama. Ranuh ING, penyunting. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995.

Ozkan M, Senel S, Arslan EA, Karacan CD. The socioeconomic and biological risk factors for developmental delay in early childhood. Eur J Pediatr 2012;171:1815–21.

Permatasari DF, Sumarmi S. Perbedaan panjang badan lahir, riwayat penyakit, infeksi, dan perkembangan balita stunting dan non stunting. J Berk Epidemiol 2018;6:182–91.

Perignon M, Fiorentino M, Kuong K, dkk. Stunting, poor iron status and parasite infection are significant risk factors for lower cognitive performance in cambodian school-aged children. PLoS One 2014;9:1–11.

Dhamayanti M, Herlina M. Skrining gangguan kognitif dan bahasa dengan menggunakan capute scales (cognitive adaptive test / clinical linguistic & auditory milestone scale-cat/clams). Sari Pediatri 2009;11:189-98.

Chirande L, Charwe D, Mbwana H, dkk. Determinants of stunting and severe stunting among under-fives in Tanzania : evidence from the 2010 cross-sectional household survey. BMC Pediatr 2015;15:1–13.

Bebars GM, Afifi MF, Mahrous DM, dkk. Assessment of some micronutrients serum levels in children with severe acute malnutrition with and without cerebral palsy- A follow up case control study. Clin Nutr Exp 2019;23:34–43.

Titaley CR, Ariawan I, Hapsari D, Muasyaroh A, Dibley MJ. Determinants of the stunting of children under two years old in Indonesia: A multilevel analysis of the 2013 Indonesia basic health survey. Nutrients 2019;11:1106.

Soekatri MYE, Sandjaja S, Syauqy A. Stunting was associated with reported morbidity, parental education and socioeconomic status in 0.5–12-year-old Indonesian children. Int J Environ Res Pub Health 2020;17:1–9.

Deshmukh PR, Sinha N, Dongre AR. Social determinants of stunting in rural area of Wardha, Central India. Med J Armed Forces India . 2013;69:213–7.

Nasikhah R, Margawati A. Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24 - 36 bulan di kecamatan semarang timur. J Nutr Coll 2012;1:176–84.

Çelikkiran S, Bozkurt H, Coşkun M. Denver developmental test findings and their relationship with sociodemographic variables in a large community sample of 0–4-year-old children. Arch Neuropsychiatr 2015;52:180–4.

Septiawahyuni HD, Suminar DR. Kecukupan asupan zinc berhubungan dengan perkembangan motorik pada balita stunting dan non-stunting. Amerta Nutr 2019;1–6.

Susanty NM, Margawati A. Hubungan antara derajat stunting, asupan zat gizi dan sosial ekonomi rumah tangga dengan perkembangan motorik anak usia 24 –36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bugangan. J Nutr Food Sci 2012;1:327–36.

Adani FY, Nindya TS. Perbedaan asupan energi, protein, zink, dan perkembangan pada balita stunting dan non stunting. J Unair 2017;1:46–51.

Grantham-McGregor S, Cheung YB, Cueto S, Glewwe P, Richter L, Strupp B. Developmental potential in the first 5 years for children in developing countries. Lancet 2007;369:60–70.

Rahmaniah. Riwayat asupan energi dan protein sebagai faktor risiko stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul - tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2014.

Azmy U, Mundiastuti L. Konsumsi zat gizi pada balita stunting dan non-stunting di Kabupaten Bangkalan. Amerta Nutr 2018;2:292–8.

Losong NHF, Adriani M. Perbedaan kadar hemoglobin, asupan zat besi, dan zinc pada balita stunting dan non stunting. Amerta Nutr 2017;1:117.

Sumedi E, Sandjaja. Asupan zat besi, vitamin A dan zink anak Indonesia umur 6 - 23 bulan. Penelit Gizi dan Makanan 2015;38:167–75.

Soemantri A. Epidemiologi of iron deficiency anemia. Dalam: Rina Triasih, penyunting. Anemia defisiensi besi. Yogyakarta: Medika Fakultas Kedokteran UGM; 2005.h.8–25.

Hermoso M, Vucic V, Vollhardt C, dkk. The effect of iron on cognitive development and function in infants, children and adolescents: A systematic review. Ann Nutr Metab 2011;59:154–65.

Lunn PG. Growth retardation and stunting of children in developing countries. Br J Nutr 2002;88:109–10.

Cusick SE, Georgieff MK, Rao R. Approaches for reducing the risk of early-life iron deficiency-induced brain dysfunction in children. Nutrients 2018;10:1–14.




DOI: http://dx.doi.org/10.14238/sp23.2.2021.95-102

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by-nc-sa4.footer##

Informasi Editorial:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Jl. Salemba I No 5, Jakarta 10430, Indonesia
Phone/Fax: +62-21-3912577
Email: editorial [at] saripediatri.org

Lisensi Creative Commons
Sari Pediatri diterbitkan oleh Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.